Coretan Tinta

Selamat datang
di Sang Pelukis Otak Blog.


Semoga apa yang
termuat di BLog
ini bisa bermanfaat
dan harap digunakan
sebaik-baiknya.


"Sang Pelukis Otak"

Mainkan Cursor Mu....

Jumat, 29 Oktober 2010

PENGERTIAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

MAKALAH
PENGERTIAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
MATA KULIAH PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS




DISUSUN OLEH:
SUTIKNO

S-1 PGSD
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2010

BAB I
PENDAHULUAN

Untuk mempersiapkan rencana peyelenggarakan pendidikan inklusi di SD, dan sebagai bekal guru SD dalam pembelajran, para guru di SD perlu dibekali dengan berbagai pengetahuan tentang anak dengan kebutuhan khusus atau sering juga disebut anak berkebutuhan khusus. Untuk mengetahui siapa yang disebut anak dengan kebutuhan khusus serta karakteristiknya, maka diharapkan guru mampu melakukan identifikasi terhadap mereka, agar dalam pembelajaran dapat berjalan dengan optimal sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai..
Dalam rangka mengidentifiksi anak dengan kebutuhan khusus, diperlukan pengetahuan guru tentang berbagai jenis kelainan anak, diantaranya adalah kelainan fisik, mental intelektual, social, emosional. Di luar jenis kelainan tersebut terdapat anak yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa atau sering disebut sebagai anak yang memiliki kecerdasan dan bakat luar biasa. Masing-masing memiliki ciri dan tanda-tanda khusus atau karakteristik yang dapat digunakan oleh guru untuk menandai dalam rangka identifikasi anak dengan kebutuhan pendidikan khusus.
Catatan statistik kependudukan di suatu wilayah, akan mencatat jumlah semua anak usia sekolah di wilayah tersebut, tanpa harus membedakan anak normal atau berkebutuhan khusus. Demikian juga bagi dinas pendidikan suatu wilayah yang akan memberikan bantuan biaya pendidikan, tidak akan membedakan siswa normal dan berkebutuhan khusus, mereka hanya membedakan akan jenjang dan jenis pendidikan yang memperoleh bantuan biaya pendidikan. Hal ini berarti klasifikasi anak berkebutuhan khusus dalam permasalahan umum tidak begitu diperlukan atau kurang berarti, tetapi ada kalanya klasifikasi itu diperlukan.
Anak berkebutuhan khusus merupakan satu istilah umum yang menyatukan berbagai jenis kekhususan atau kelainan. Seorang guru sekolah khusus (SLB) merasakan kesulitan dalam menghadapi anak didiknya yaitu anak berkebutuhan khusus yang begitu heterogin, sehingga dia perlu mengelompokkan anak didiknya berdasar jenis kelainannya agar lebih homogin sehingga dapat memberikan pembelajaran yang lebih optimal.
Untuk kepentingan penanganan baik pendidikan maupun pengajaran dan therapy terhadap anak berkebutuhan khusus, maka diperlukan klasifikasi dengan tujuan agar penanganan anak lebih sesuai dan memperoleh hasil yang optimal.



























BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Anak dengan kebutuhan khusus adalah anak yang secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan/penyimpangan (phisik, mental-intelektual, social, emosional) dalam proses pertumbuhan/ perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
Sedangkan Anak berkebutuhan khusus menurut Heward adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik.
Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) bisa memiliki masalah dalam sensorisnya, motoriknya, belajarnya, dan tingkahlakunya. Semua ini mengakibatkan terganggunya perkembangan fisik anak. Hal ini karena sebagian besar Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) mengalami hambatan dalam merespon rangsangan yang diberikan lingkungan untuk melakukan gerak, meniru gerak dan bahkan ada yang memang fisiknya terganggu sehingga ia tidak dapat melakukan gerakan yang terarah dengan benar. Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang secara pendidikan memerlukan layanan yang spesifik yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya.
Dengan demikian, meskipun seorang anak mengalami kelainan/ penyimpangan tertentu, tetapi kelainan/penyimpangan tersebut tidak signifikan sehingga mereka tidak memerlukan pelayanan pendidikan khusus, anak tersebut bukan termasuk anak dengan kebutuhan khusus.

B. JENIS ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Konsep anak berkebutuhan khusus (children with special needs) memiliki makna dan spektrum yang lebih luas dibandingkan dengan konsep anak luar biasa (exceptional children). Anak berkebutuhan khusus ini memiliki apa yang disebut dengan hambatan belajar dan hambatan perkembangan (barier to learning and development). Oleh sebab itu mereka memerlukan layanan pendidikan yang sesuai dengan hambatan belajar dan hambatan perkembang yang dialami oleh masing-masing anak.
Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dibagi menjadi 3 jenis kelainan yaitu :
1. Kelainan Mental terdiri dari
a. Mental Tinggi
Sering dikenal dengan anak berbakat intelektual, dimana selain memiliki kemampuan intelektual di atas rerata normal yang signifikan juga memiliki kreativitas dan tanggung jawab terhadap tugas. Sehingga untuk mewujudkan potensinya menjadi prestasi nyata, memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
b. Mental rendah
Kemampuan mental rendah atau kapasitas intelektual (IQ) di bawah rerata dapat dibagi menjadi 2 kelompok: yaitu anak lamban belajar (slow learners) yaitu anak yang memiliki IQ antara 70-90. Sedangkan anak yang memiliki IQ di bawah 70 dikenal dengan anak berkebutuhan khusus.
c. Berkesulitan Belajar Spesifik
Berkesulitan belajar berkaitan dengan prestasi belajar (achivement) yang diperoleh siswa. Anak berkesulitan belajar spesifik adalah anak yang memiliki kapasitas intelektual normal ke atas tetapi memiliki prestasi belajar rendah pada bidang akademik tertentu.
Anak berkesulitan belajar adalah individu yang memiliki gangguan pada satu atau lebih kemampuan dasar psikologis yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa, berbicara dan menulis yang dapat mempengaruhi kemampuan berfikir, membaca, berhitung, berbicara yang disebabkan karena gangguan persepsi, brain injury, disfungsi minimal otak, dislexia, dan afasia perkembangan. individu kesulitan belajar memiliki IQ rata-rata atau diatas rata-rata, mengalami gangguan motorik persepsi-motorik, gangguan koordinasi gerak, gangguan orientasi arah dan ruang dan keterlambatan perkembangan konsep.

2. Kelainan Fisik meliputi:
a. Kelainan Tubuh (Tunadaksa)
Adanya kondisi tubuh yang menghambat proses interaksi dan sosialisasi indifidu meliputi kelumpuhan yang dikarenakan polio, dan gannguan pada fungsi syaraf otot yang disebabkan kelayuan otak (cerebral palsy ), serta adanya kehilangan anggota tubuh sehingga anggota tubuhnya tidak lengkap, tidak seperti anak normal pada umumnya. Penyebab-penyebab tuna daksa diantaranya adalah :
1. kerusakan karena keturunan, atau dibawa sejak lahir
2. kerusakan yng tewrjadi pada waktu kelahiran
3. infeksi contoh poliomyelitis
4. kondisi traumatik contoh : kecelakaan, amputasi, luka bakar
5. tumor.
Bimbingan tyang diberikan untuk tuna daksa :
1. pengembangan self-respect
2. Bimbingan kepribadian baik pada anak dan orang tua
3. bimbingan sosial dalam bergaul.

b. Kelainan Indera Penglihatan (Tunanetra)
Seseorang yang sudah tidak mampu menfungsikan indera penglihatannya untuk keperluan pendidikan dan pengajaran walaupun telah dikoreksi dengan lensa. Kelainan penglihatan dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu buta dan low vision. Seorang anak dikatakan buta jika anak tidak mampu menerima rangsang cahaya dari luar (visusnya = 0). Sedangkan low vision terjadi bila anak masih mampu menerima rangsang cahaya dari luar tetapi ketajamannya lebih dari 6/21, atau jika anak hanya mampu membaca headline pada surat kabar.
c. Kelainan Indera Pendengaran (Tunarungu)
Kelainan pendengaran adalah seseorang yang telah mengalami kesulitan untuk menfungsikan pendengarannya untuk interaksi dan sosialisasi dengan lingkungan termasuk pendidikan dan pengajaran. Kelainan pendengaran dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu tuli (the deaf) dan kurang dengar (hard of hering). Tuli adalah mereka yang indera pendengarannya mengalami kerusakan dalam taraf berat sehingga pendengarannya tidak berfungsi lagi. Sedangkan kurang dengar adalah mereka yang indera pendengarannya mengalami kerusakan tetapi masih dapat berfungsi untuk mendengar, baik dengan maupun tanpa menggunakan alat bantu dengar (hearing aids)
.
d. Kelainan Wicara
Seseorang yang mengalami kesulitan dalam mengungkapkan pikiran melalui bahasa verbal, sehingga sulit bahkan tidak dapat dimengerti orang lain. Kelainan wicara ini dapat bersifat fungsional dimana mungkin disebabkan karena ketunarunguan, dan organik yang memang disebabkan adanya ketidak sempurnaan organ wicara maupun adanya gangguan pada organ motoris yang berkaitan dengan wicara. Biasanya anak yang menderita gangguan kelaianan wicara tersebut dapat diajak komunikasi tetapi dengan menggunakan bahasa isyarat.

3. Kelainan Emosi
Gangguan emosi merupakan masalah psikologis, dan hanya dapat dilihat dari indikasi perilaku yang tampak pada individu. Adapun klasifikasi gangguan emosi meliputi:
a. Gangguan Perilaku
1. mengganggu di kelas
2. tidak sabaran-terlalu cepat bereaksi
3. tidak menghargai-menentang
4. menyalahkan orang lain
5. kecemasan terhadap prestasi di sekolah
6. dependen pada orang lain
7. pemahaman yang lemah
8. reaksi yang tidak sesuai
9. melamun, tidak ada perhatian, menarik diri
b. Gangguan Konsentrasi (ADD/Attention Deficit Disorder)
Enam atau lebih gejala inattention, berlangsung paling sedikit 6 bulan. Ketidakmampuan untuk beradaptasi dan tingkat perkembangannya tidak konsisten.
Gejala-gejala inattention tersebut ialah:
1. Sering gagal untuk memperhatikan secara detail, atau sering membuat kesalahan dalam pekerjaan sekolah atau aktivitas yang lain.
2. Sering kesulitan untuk memperhatikan tugas-tugas atau aktivitas permainan.
3. Sering tidak mendengarkan ketika orang lain berbicara.
Sering tidak mengikuti instruksi untuk menyelesaikan pekerjaan sekolah.
4. Kesulitan untuk mengorganisir tugas-tugas dan aktivitas-aktivitas.
5. Tidak menyukai pekerjaan rumah dan pekerjaan sekolah.
6. Sering tidak membawa peralatan sekolah seperti pensil, buku, dan sebagainya.
7. Sering mudah beralih pada stimulus luar.
8. Mudah meluapkan terhadap aktivitas sehari-hari.
c. Anak Hiperaktive (ADHD/Attention Deficit with Hiperactive Disorder)
1. Perilaku tidak bisa diam
2. Ketidak mampuan untuk memberi perhatian yang cukup lama
3. Hiperaktivitas
4. Aktivitas motorik yang tinggi
5. Mudah buyarnya perhatian
6. Canggung
7. Infleksibilitas
8. Toleransi yang rendah terhadap frustasi
9. Berbuat tanpa dipikir akibatnya

Perkembangan layanan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus tidak akan lepas dari peran dan peranan pemerintah dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional. Untuk peningkatan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus Departemen Pendidikan Nasional melalui direktorat pembinaan sekolah luar biasa (PSLB) memiliki kebijakan tersendiri dalam mengelompokkan anak-anak berkebutuhan khusus, walaupun sebenarnya sama hanya pada klasifikasi yang dikemukakan oleh PSLB lebih pada aplikasi jenis sekolah luar biasa yang ada di lapangan. Adapun klasifikasi yang diberikan oleh Direktorat PSLB (Dir. PSLB: 2006:20-21) adalah sebagai berikut:
A. Tunanetra
B. Tunarungu
C. Berkebutuhan khusus: (antara lain Down Syndroms)
1. C : Berkebutuhan khusus Ringan (IQ = 50-70)
2. C1 : Berkebutuhan khusus Sedang (IQ = 25-50)
3. C2 : Berkebutuhan khusus Berat (IQ < 25) D. Tunadaksa: 1. D : Tunadaksa Ringan 2. D1 : Tunadaksa Sedang E. Tunalaras (Dysruptive) F. Tunawicara G. Tunaganda H. HIV AIDS I. Gifted : Potensi Kecerdasan Istimewa (IQ > 125)
J. Talented : Potensi Bakat Istimewa (Multiple Intelligences : Language, Logico Mathematic, Visuospasial, Bodily-kinesthetic, Musical, Interpersonal, Intrapersonal, Natural, Spiritual)
K. Kesulitan Belajar (antara lain Hyperaktif, ADD/ADHD, Dyslexia/kesulitan membaca, Dysgraphia/kesulitan menulis, Dyscalculia/kesulitan menghitung, Dysphasia/kesulitan berbicara, Dyspraxia/kesulitan motorik).
L. Lambat Belajar (IQ = 70-90)
M. Autis
N. Korban Penyalahgunaan Narkoba
O. Indigo




























BAB III
PENUTUP

Anak dengan kebutuhan khusus adalah anak yang secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan/penyimpangan (phisik, mental-intelektual, social, emosional) dalam proses pertumbuhan/ perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) bisa memiliki masalah dalam sensorisnya, motoriknya, belajarnya, dan tingkahlakunya. Semua ini mengakibatkan terganggunya perkembangan fisik anak. Hal ini karena sebagian besar Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) mengalami hambatan dalam merespon rangsangan yang diberikan lingkungan untuk melakukan gerak, meniru gerak dan bahkan ada yang memang fisiknya terganggu sehingga ia tidak dapat melakukan gerakan yang terarah dengan benar. Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang secara pendidikan memerlukan layanan yang spesifik yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya
Oleh karena itu dengan mempelajari dan mengidentifikasi berbagai karakteristik dari ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) tersebut maka seorang guru maupun calon guru diharapkan dapat memahami para siswanya agar proses pembelajaran diharapkan dapat berlangsung dengan baik sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.




























DAFTAR PUSTAKA

Somantri, Sutjihati.2007.Psikologi Anak Luar Biasa.Bandung:Refika Aditama
Haryani,2009. Kumpulan Materi Bimbingan di SD.
http://www.ditplb.or.id/profile.php?id=52\par

Tidak ada komentar:

Posting Komentar